Cerita Bokep : Jilatasn Si Pak Polisi Yang Bikin Gairah Naik
Cerita Bokep

Cerita Bokep : Jilatasn Si Pak Polisi Yang Bikin Gairah Naik

Cerita Bokep : Jilatasn Si Pak Polisi Yang Bikin Gairah Naik Jilatan Pak Polisi Yang Membangkitkan Gairah-ReniSebagai pasangan suami istri muda yang baru satu tahun berumah tangga, kehidupan family kami berlangsung dengan tenang, apa adanya dan tanpa masalah.Saya, Reni (24), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada di antara perusahaan jasa finansial di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya pun tidak dapat dikatakan tidak menarik. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B.

Cerita Bokep : Jilatasn Si Pak Polisi Yang Bikin Gairah Naik

Cerita Bokep : Jilatasn Si Pak Polisi Yang Bikin Gairah Naik

Cukup bahenol, kata rekan lelaki di kantor. Sementara, suami saya pun ganteng. Rendi namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 27 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rendi orangnya definisi dan sabar.Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih tidak sedikit setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak terdapat kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan santap malam di di antara resto ternama di kota ini.

Dan sering pula, kami menghabiskannya pada suatu villa di hibyawangmangu.Soal hubungan kami, khususnya yang sehubungan dengan ‘malam-malam di ranjang’ pun tidak terdapat masalah yang berarti. Memang tidak masing-masing malam. Paling tidak dua kali sepekan, Rendi membayar tugasnya sebagai suami. Hanya saja, sebab suami saya tersebut sering kembali tengah malam, pasti saja ia terlihat capek bila telah berada di rumah. Bila telah begitu, saya pun tidak mau terlampau rewel. Juga soal ranjang itu.Bila Rendi telah berkata, “Kita istirahat ya,” maka saya juga menganggukkan kepala walau saat tersebut mata saya masih belum mengantuk.

Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlampau kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan tidak sedikit hal. Tentang jabatan di kantor, mengenai anak, mengenai hari esok dan pun tentang ranjang.Bila telah sampai mengenai ranjang itu, biasanya pula saya menginginkan saya bergumulan mati-matian di lokasi tidur. Seperti kisah Linda atau Intan di kantor, yang masing-masing pagi tidak jarang kali punya kisah menarik mengenai apa yang mereka lakukan dengan suami mereka pada malamnya. Tapi sesungguhnya tersebut hanyalah imajinasi menjelang istirahat yang menurut keterangan dari saya wajar-wajar saja. Dan saya pun tidak punya benak lebih dari itu. Dan barangkali pikiran seperti tersebut akan terus berlangsung bila saja saya tidak bertemu dengan Herto. Pria tersebut sehari-hari bekerja sebagai polisi dengan pangkat Briptu. Usianya barangkali sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.Begini ceritanya saya bertemu dengan lelaki itu. Suatu malam sepulang santap malam di di antara resto kesayangan kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak suatu sepeda motor. Untung tidak terlampau parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu melulu mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria tersebut marah-marah.

“Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak lelaki berkulit hitam tersebut pada suami saya.Mungkin sebab merasa bersalah atau fobia dengan gertakan lelaki yang menyatakan sebagai polisi itu, suami saya segera memberikan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dijangkau kesepakatan, suami saya akan membetulkan semua kehancuran motor tersebut esok harinya. Sementara motor tersebut dititipkan pada suatu bengkel. Pria tersebut sepertinya masih marah. Ketika Rendi menawari guna mengantar ke rumahnya, ia menolak.“Tidak usah. Saya gunakan ojek saja,” katanya.

Baca Juga : Cerita Dewasa : Jadi Janda Waktu Muda Karena Di Tinggal Laki Pergi

Esoknya, Rendi sengaja kembali kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami juga pergi ke rumah lelaki gemuk itu. Rumah lelaki yang lantas kami ketahui mempunyai nama Herto itu, berada pada suatu gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Opel Blazer suami saya masuk. Terpaksalah kami berlangsung dan menitipkan mobil di pinggir jalan.Jilatan Pak Polisi Yang Membangkitkan Gairah-Lepas BajuRumah kontrakan Pak Herto hanyalah lokasi tinggal papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah tidak sedikit terkelupas, sedangkan kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak gunakan karpet.
“Ya beginilah lokasi tinggal saya. Saya sendiri bermukim di sini. Jadi, tidak terdapat yang membersihkan,” kata Herto yang melulu pakai singlet dan kain sarung.Setelah berbasa basi dan mohon maaf, Rendi mengatakan bila sepeda motor Pak Herto sudah di berikan anak buahnya ke di antara bengkel besar. Dan bakal siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Rendi bercerita, Pak Herto terlihat cuek saja. Ia mendongkrak satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang terdapat di atas meja.“Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

Saya tahu, sejumlah kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Herto, saya bergidik juga. Badannya besar walau ia pun tidak terlampau tinggi. Lengan tangannya terlihat kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang telah kusam tersebut tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya laksana besi yang bengkok-bengkok, kasar.Herto lantas bercerita bila ia telah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi bakal pensiun. Sudah nyaris tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya telah berumah tangga, sementara yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita kenapa pisah dengan istrinya.Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah sejumlah hari sebelumnya saya berakhir ditodong ketika berhenti di suatu perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya lantas diberi tahu anggota polisi bila penodong saya tersebut sudah tertangkap, namun barang-barang berharga dan HP saya telah tidak terdapat lagi. Sudah dipasarkan si penodong.Saat inginkan pulang, saya nyaris bertabrakan dengan Pak Herto di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja terdapat orang di depan saya. Saya juga kaget dan berjuang mengelak. Karena buru-buru saya memasuki pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang lantas saya ketahui Pak Herto tersebut segera menyambar lengan saya. Akibatnya, tubuh saya yang nyaris jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Herto. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang powerful dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya menikmati getaran itu. Tapi tak lama.

“Makanya, jalannya tersebut hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk selokan itu,” katanya seraya mencungkil saya dari pelukannya. Saya hanya dapat tersenyum masam seraya bilang terimakasih.Ketika Pak Herto lantas menawari minum di kantin, saya juga tidak punya dalil untuk menolaknya. Sambil minum ia tidak sedikit bercerita. Tentang motornya yang telah baik, mengenai istri yang mohon cerai, mengenai dirinya yang dinamakan orang-orang suka menggangu istri orang. Saya melulu diam memperhatikan ceritanya.Mungkin sebab seringkali diam bila bertemu dan ia pun kian punya keberanian, Pak Herto tersebut kemudian justeru sering datang ke rumah. Datang melulu untuk bercerita. Atau menanyai soal lokasi tinggal kami yang tidak punya penjaga. Atau mengenai hal beda yang seluruh itu, saya rasakan, melulu sekesar untuk dapat bertemu dengan berdampingan dengan saya. Tapi semua tersebut setahu suami saya lho. Bahkan, sering pula Rendi tercebur permainan catur yang menyenangkan dengan Pak Herto bila ia datang pas terdapat Rendi di rumah.Ketika sebuah kali, suami saya ke Jakarta sebab ada hal pekerjaan, Pak Herto justeru menawarkan diri untuk mengawal rumah. Rendi, yang sangat tidak sekitar sepakan di Jakarta, pasti saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya juga merasa tidak punya dalil untuk menolak.Meski tidak banyak kasar, namun Pak Herto tersebut suka sekali bercerita dan pun nanya-nanya. Dan sebab kemudian telah memandang nya sebagai family sendiri, saya juga tidak pula sungkan guna berceritanya dengannya. Apalagi, family saya tidak terdapat yang sedang di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal tekanan ibu mertua supaya saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Herto. Ia hendak sekali sekali. Matanya terlihat berkilau.“Oh ya. Ah, bila yang tersebut mungkin saya dapat bantu,” katanya. Ia kian mendekat.

“Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.
“Mudah-mudahan saya dapat bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan tidak banyak diurut,” kata Pak Herto pula.
Dengan benak lurus, sesudah sebelumnya saya memberitahu Rendi, saya juga pergi ke lokasi tinggal Pak Herto. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia pun masih gunakan kain sarung dan singlet.Saya lihat matanya berkilat. Pak Herto lantas mengatakan bahwa penyembuhan yang didapatkannya melewati kakeknya, dilaksanakan dengan pemijatan di unsur perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah tersebut baru diberi obat. Saya melulu diam.“Sekarang saja anda mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu melulu beralaskan kasur yang telah menipis.Pak Herto lantas memberikan kain sarung. Ia mengajak saya guna membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih pun membuka pakaian di depan lelaki tua itu.

Baca Juga : Cerita Dewasa : Ngedate Sama Cewek Salon Plus Plus Mantap

“Gantilah,” katanya saat melihat saya masih bengong.
Inilah kesatu kali saya ganti pakaian di sekitar pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu tersebut saya diajak berbaring.“Maaf ya,” katanya saat tangannya mulai mengurangi perut saya.
Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras tersebut di perut saya. Ia menyibak unsur bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya menyaksikan gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rendi.Jilatan Pak Polisi Yang Membangkitkan Gairah-Reni Ngesex“Ini dilepas saja,” katanya sambil unik CD saya. Oops! Saya kaget.
“Ya, mengganggu bila tidak dilepas,” katanya pula.

Tanpa menantikan persetujuan saya, Par Herto menggeser unsur atasnya. Saya menikmati bulu-bulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya juga merosot. Meski hendak menolak, namun suara saya tidak keluar. Tangan saya juga terasa berat untuk menyangga tangannya.Tanpa bicara, Pak Herto pulang melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar pulang bergerilya di unsur perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya lantas memijati pinggiran wilayah sensitif saya. Tangan tersebut bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar tersebut menyentuh wilayah klitoris saya. Saya rasa terdapat getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, tersiar hembusan nafas yang berat, Pak Herto kian bersemangat.“Ada yang tidak beres di unsur peranakan kamu,” katanya.

Satu tangannya sedang di perut, sedangkan yang lainnya mengelus gundukan yang ditumbuhi tidak banyak bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya menikmati ada kesenangan di sana. Saya menikmati bibir vagina saya pun telah basah. Kepala saya oleng ke kiri dan ke kanan menyangga gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Herto kian berani. Jari-jari mulai menginjak pinggir liang vagina saya.Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menyangga gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menyangga tangannya justeru dibawanya guna meremas payudara saya. Meski tidak membuka BH, tetapi remasan tangannya dapat membuat panyudara saya mengeras. Uh, saya tidak tahu bila kain sarung yang saya pakai telah merosot sampai ujung kaki. CD pun sudah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Herto telah menjilati selangkang saya yang telah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas mengejar Pak Herto.Ini permainan yang baru yang kesatu kali saya rasaran. Rendi, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh wilayah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Herto benar-benar menciptakan dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang lantas digumulnya dengan kuat, kemudian dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih tenggelam di selangkangan saya.Benar-benar sensasi yang paling mengasyikan. Dan saya juga tidak sadar bila kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, kemudian ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas. Saya lihat Pak Herto menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kesenangan itu. Singletnya juga basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, seraya meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Herto naik ke atas ranjang.

Cerita Bokep : Jilatasn Si Pak Polisi Yang Bikin Gairah Naik

“Kita lanjutkan,” katanya.Saya disuruhnya telungkup. Tangannya pulang merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke unsur pinggang. Dan saat tangan tersebut berada di atas pantat saya, Pak Herto mulai melenguh. Jari tangannya turun naik salah satu anus dan vagina. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan tidak banyak menekan. Wow, paling mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk salah satu lipatan pantat, saya hanya dapat melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda tersebut sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Herto itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya juga menghitam lebat.Mulut saya hingga ternganga saat ujung kontol Pak Herto mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Herto pun mengurangi dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir vagina saya laksana ikut bergoyang terbit masuk mengekor goyangan kontol Pak Herto.

Hampir sepuluh menit Pak Herto asik dengan goyangannya. Saya juga meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang telah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Kuat pun stamina Pak Herto. Belum terlihat tanda-tanda itunya bakal ‘menembak’.Padahal, saya telah kembali menikmati ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan tidak banyak sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali.

Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang vagina saya kian membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.Saya hanya dapat diam saja saat Pak Herto masih menggoyang. Beberapa ketika kemudian, baru tersebut sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan kian menekan, ia juga memuntahkan semua spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam tersebut pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa permainan polisi yang nyaris pensiun itu.

Apalagi dikomparasikan dengan permainan Rendi.Sejak ketika itu, saya juga ketagihan dengan permainan Pak Herto. Kami masih tidak jarang melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami pun nginap di Tawangmangu. Meski, lantas Pak Herto pun sering mohon duit, saya tidak merasa melakukan pembelian kepuasan syahwat kepadanya. Semua tersebut saya lakukan, tanpa setahu Rendi. Dan saya yakin Rendi pun tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya pun butuh usapan keras Pak Herto itu. Entah hingga kapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *